Keyakinan Pada Buddhadharma
Oleh: Nyanasila
Di dalam perjalanan spiritual, terdapat banyak hal yang dapat dipelajari, direnungkan, dan dipraktikkan. Namun, sebelum seseorang melangkah jauh di Jalan Dharma, ia memerlukan sebuah pondasi yang kokoh sebagai penyangga seluruh proses latihan batin. Pondasi itu adalah keyakinan pada Buddhadharma; saddhā. Tanpa keyakinan pada Buddhadharma, praktik Dharma akan mudah goyah ketika berhadapan dengan kesulitan, keraguan, maupun godaan duniawi. Sebaliknya, dengan keyakinan yang benar, seseorang akan memiliki arah yang jelas dalam menapaki jalan menuju pembebasan.
Keyakinan pada Buddhadharma bukanlah kepercayaan buta yang lahir dari tradisi, kebiasaan, atau sekadar mengikuti orang lain melainkan kepercayaan mendalam terhadap Buddha dan kesiapan mempraktikkan Dharma. Maka, kepercayaan ini harus tumbuh dari pemahaman, perenungan, dan pengalaman langsung terhadap kebenaran. Oleh karena itu, Buddha tidak pernah meminta seseorang untuk percaya tanpa mengetahui. Sebaliknya, Beliau mengajarkan agar setiap orang menyelidiki, mengamati, dan mempraktikkan Dharma sehingga keyakinan yang muncul berakar pada kebijaksanaan.
Karena itu, sebab utama munculnya keyakinan adalah pengetahuan; ñāṇa. Akan tetapi, tidak semua pengetahuan dapat melahirkan keyakinan yang benar. Ada pengetahuan yang hanya memperluas wawasan duniawi, menambah keterampilan, atau memperkaya informasi semata. Pengetahuan semacam itu bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, tetapi tidak selalu mengarah pada kebebasan batin. Pengetahuan yang menjadi sebab munculnya keyakinan adalah pengetahuan yang mengarahkan pada pembebasan samsara; nirwana. Pengetahuan ini berupa pemahaman tentang hakikat kehidupan, bahwa segala sesuatu tidak kekal, bahwa segala yang berkondisi mengandung ketidakpuasan, dan bahwa tidak ada inti diri yang tetap untuk dipertahankan. Pengetahuan inilah yang perlahan membuka jalan menuju Nirwaṇa.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat melihat bagaimana keyakinan bekerja. Seorang petani menanam benih karena yakin bahwa benih yang dirawat dengan baik akan bertumbuh dan berbuah. Seorang siswa belajar dengan tekun karena yakin bahwa pendidikan akan membawa manfaat bagi masa depannya. Seorang pasien meminum obat karena yakin bahwa pengobatan dapat membantu kesembuhannya. Demikian pula seorang praktisi Dharma menjalankan moral, bermeditasi, dan mengembangkan kebijaksanaan karena memiliki keyakinan bahwa jalan yang diajarkan Buddha benar-benar mengarah pada berakhirnya penderitaan.
Fungsi utama keyakinan adalah memperjelas orientasi batin. Di dunia ini terdapat begitu banyak tujuan yang dapat dikejar manusia. Sebagian orang mengejar kekayaan, sebagian mengejar kekuasaan, sebagian mengejar popularitas, dan sebagian lainnya mengejar kenikmatan inderawi. Semua tujuan tersebut tampak menarik, tetapi tidak mampu memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya. Ketika keyakinan terhadap Buddha, Dharma, dan Saṅgha tumbuh dalam diri seseorang, ia mulai memahami bahwa tujuan tertinggi kehidupan bukanlah mengumpulkan sebanyak mungkin kesenangan duniawi, melainkan membebaskan diri dari lingkaran penderitaan saṃsāra.
Oleh karena itu, orientasi batin yang benar sangat penting karena arah menentukan tujuan. Seseorang yang berjalan ke timur tidak akan sampai ke barat, betapa pun cepat langkahnya. Demikian pula seseorang yang hidup hanya untuk memuaskan keinginan duniawi tidak akan menemukan kebebasan batin, meskipun ia memperoleh banyak hal yang diinginkannya. Keyakinan membantu seseorang untuk selalu mengingat tujuan sejati dari praktik Dharma, yaitu pembebasan dari penderitaan kelahiran dan kematian.
Wujud nyata dari keyakinan adalah batin yang kokoh pada Tiga-Permata; Buddha, Dharma, dan Saṅgha. Ketika menghadapi kesulitan hidup, ia tidak mudah kehilangan arah. Ketika berhadapan dengan penderitaan, ia tidak tenggelam dalam keputusasaan. Ketika melihat keberhasilan orang lain, ia tidak dikuasai iri. Ia tetap teguh karena memiliki tempat berlindung yang luhur dalam batinnya.
Keyakinan semacam ini bukan berarti seseorang tidak pernah mengalami keraguan. Keraguan dapat muncul sewaktu-waktu, sebagaimana awan dapat menutupi matahari. Akan tetapi, sebagaimana matahari tidak pernah benar-benar lenyap di balik awan, demikian pula keyakinan yang berlandaskan kebijaksanaan tidak akan mudah padam. Melalui belajar Dharma, berdiskusi dengan sahabat spiritual, dan mempraktikkan meditasi, keyakinan akan semakin matang dan mendalam.
Oleh karena itu, para guru bijaksana sering mengibaratkan keyakinan sebagai harta karun yang sangat berharga. Harta dunia dapat dicuri, rusak, atau hilang. Kekayaan dapat lenyap dalam sekejap. Jabatan dan kedudukan pun tidak dapat dibawa ketika kematian datang. Akan tetapi, keyakinan yang benar akan selalu menyertai seseorang sebagai kekayaan batin yang tak ternilai. Ia menjadi pelita ketika kehidupan diliputi kegelapan, menjadi kompas ketika batin kehilangan arah, dan menjadi jembatan yang menuntun menuju pantai kebebasan.
Lebih dari itu, keyakinan memiliki kekuatan untuk menyelamatkan makhluk dari kelahiran di alam-alam rendah. Seseorang yang memiliki keyakinan pada Tiga-Permata akan terdorong untuk menjaga moral, mengembangkan kebajikan, dan menghindari perbuatan tidak baik. Kebajikan-kebajikan itulah yang menjadi sebab bagi kelahiran yang membahagiakan dan kemajuan spiritual. Sebaliknya, tanpa keyakinan, seseorang mudah terseret oleh pandangan keliru, perbuatan tidak bajik, dan berbagai kecenderungan batin yang memperpanjang penderitaan saṃsāra.
Maka, keyakinan bukan sekadar awal dari praktik Dharma, melainkan sahabat setia yang menemani setiap langkah menuju pembebasan. Ia lahir dari pengetahuan yang benar, mengarahkan batin pada tujuan yang benar, dan berbuah pada kehidupan yang benar. Ketika keyakinan tumbuh kuat di dalam batin, seseorang tidak lagi menjalani hidup hanya untuk mengejar kesenangan sesaat, melainkan menggunakan setiap momen kehidupan sebagai kesempatan untuk menumbuhkan kebijaksanaan dan kebebasan. Dengan demikian, keyakinan menjadi permata batin yang menerangi jalan menuju berakhirnya penderitaan dan tercapainya kedamaian Nirwāṇa.
